bulat.co.id -
PADANG | Menteri Sosial Pemerintahan Mahasiswa
Universitas Samudra (PEMA Unsam), Muhammad Dio Aulia, mendorong penguatan koordinasi gerakan sosial mahasiswa di wilayah Aceh–Sumatera Utara serta percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) pascabencana. Dorongan tersebut menjadi bagian dari agenda yang dibawanya dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Nasional Sosial Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (
FORNASSOSMAS BEM-SI) 2026 di Universitas Andalas, Sumatera Barat, pada 18–22 Oktober 2026.
Dio yang juga menjabat Koordinator Wilayah I
FORNASSOSMAS BEM-SI menilai konsolidasi antarkampus perlu diarahkan pada program sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial organisasi.
"Penguatan gerakan sosial mahasiswa harus diwujudkan melalui kerja nyata yang berangkat dari persoalan masyarakat. Karena itu, koordinasi antarkampus perlu diperkuat agar potensi mahasiswa dapat dihimpun menjadi gerakan bersama yang terarah dan berkelanjutan," ungkapnya.
Sebagai Koordinator Wilayah I yang mencakup Aceh dan Sumatera Utara, Dio mendorong penguatan komunikasi dan kolaborasi antarkampus melalui pemetaan persoalan sosial, penyusunan program bersama, pembagian peran, serta evaluasi kegiatan.
Menurutnya, keberhasilan koordinasi wilayah perlu dilihat dari kemampuan organisasi menghasilkan program yang relevan dengan kondisi masyarakat. Kolaborasi antarkampus juga diharapkan dapat mempertemukan pengalaman dan kapasitas mahasiswa untuk menjawab persoalan sosial di daerah.

Selain konsolidasi wilayah, percepatan rehab rekon pascabencana menjadi perhatian delegasi
Universitas Samudra. Pemulihan, menurut arah gagasan yang disampaikan dalam naskah, tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi sosial masyarakat, keberlanjutan mata pencaharian, akses layanan dasar, dan perlindungan kelompok rentan.
"Pemulihan pascabencana harus memperhatikan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Selain pembangunan fisik, kondisi sosial dan keberlangsungan kehidupan warga terdampak juga perlu menjadi perhatian," ujar Dio.
Mahasiswa dapat berkontribusi melalui kajian sosial berbasis data, penghimpunan aspirasi warga, pendampingan kelompok rentan, dan pengabdian sesuai kebutuhan di lapangan. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan terkait.
Dio juga mendorong agar program sosial mahasiswa disusun berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Identifikasi kebutuhan, penetapan tujuan, serta evaluasi hasil perlu menjadi bagian dari perencanaan agar kegiatan pengabdian menghasilkan manfaat yang terukur.
Di tingkat nasional, dialog lintas sektor dinilai penting untuk mempertemukan aspirasi masyarakat, kajian akademik, perspektif mahasiswa, dan kebijakan pemerintah. Forum tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang jelas, termasuk terkait pemulihan pascabencana, serta membuka ruang tindak lanjut bagi pihak-pihak terkait.
Partisipasi
Universitas Samudra dalam Rakernas
FORNASSOSMAS BEM-SI 2026 diharapkan memperkuat peran mahasiswa dalam gerakan sosial yang kritis, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.