bulat.co.id - Muktamar NU ke-35 pada Agustus 2026 nanti akan menjadi momentum evaluasi sekaligus deklarasi diri organisasi dalam menapaki tangga abad kedua masa khidmahnya. Oleh karenanya, Ketum
PBNU terpilih nanti bisa menimba pengalaman semacam studi tiru perihal kepemimpinan sebelumnya yang dijadikan "Miqat" arah kebijakan mengelola organisasi dengan visi besar semacam Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini.
Empat generasi kepemimpinan NU sebelumnya telah menorehkan tinta emas di zamannya masing-masing.
Pertama, model kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Gus Dur adalah prototype kepemimpinan kebanggaan impulsitas warga NU, masyarakat pesantren, dan kelompok kebudayaan serta keagamaan yang tergabung dalam civil society yang selalu mengkritik tajam kebijakan pemerintah sepanjang tidak berpihak kepada kaum lemah, tertindas, dan rakyat kecil.
Saran dan kritik NU yang disampaikannya pun terukur secara efektif sehingga diterima pemerintah dengan baik. Di sisi lain, Gus Dur rutin ziarah kubur dan menemui pengurus NU serta pengajian warga NU di tingkat paling kecil dalam strata sosial sekalipun. Model komunikasi yang menyentuh seperti ini bisa diartikan sebagai model komunikasi komunitas NU yang lebih fleksibel dan tidak birokratis.
Dengan menziarahi tokoh kuburan, sadar atau tidak sadar memberi pesan mendalam bahwa seluruh warga keturunan dan muhibbinnya merasa dihormati secara elegan oleh Gus Dur. Dengan demikian,
PBNU hadir menyapa warganya dengan sepenuh hati yang tulus.
Acapkali para kyai NU yang sowan kepada Gus Dur diberikan cinderamata seperti cincin akik atau uang seperlunya yang kelihatan sepele, tetapi bisa menjalin hubungan batin yang sangat erat kepada para kyai yang sowan kepada beliau. Para kyai itu secara otomatis menyediakan diri sebagai agen kepentingan NU ke masyarakat paling bawah.
PBNU mampu berkomunikasi dengan jamaahnya secara efektif, apalagi Gus Dur juga sering mengisi pengajian di kampung-kampung.
Ketum
PBNU ke depan perlu menyapa komunitas NU paling bawah seperti yang diperankan oleh Gus Dur.
Kedua, gaya kepemimpinan Hasyim Muzadi adalah prototype kepemimpinan manajemen organisasi yang merangkul "bukan memukul" ke semua elemen organisasi dan tokoh, baik Islam maupun nonmuslim yang toleran dan rahmatan lil 'alamin, bahkan lintas keagamaan secara manajerial organisasi dalam negeri.
Dalam peran pentas internasional, NU telah mendaftarkan diri sebagai organisasi ICIS (International Conference of Islamic Scholars) ke PBB yang memberikan kesempatan bahwa siapapun Ketum
PBNU, ia adalah Sekjen ICIS. ICIS didesain sebagai jalur diplomasi kebijakan politik keagamaan, kerakyatan, dan kebangsaan secara Non Government Organization.
Peran internasional politik kebangsaan NU hari ini cukup dinantikan, tentunya terkhusus saat terjadi eskalasi konflik perang terbuka antara AS-Israel dengan Iran. Jika peran seperti ini terkonsolidasi dan tertransformasikan dengan baik maka
PBNU akan dikenal sebagai organisasi juru damai nonpemerintah yang efektif dan bermanfaat besar bagi ikut serta perdamaian dunia.
Model kepemimpinan manajerial yang harmonis baik di dalam maupun ke luar negeri perlu dikembangkan oleh Ketum
PBNU masa depan. Di dalam negeri tampak jelas, saat itu sinergi kekompakan NU-Muhammadiyah era Kyai Hasyim Muzadi bahkan sering disimbolkan dalam satu panggung dengan Dien Syamsuddin, bahkan nyaris di setiap kesempatan dengan bumbu jokes khasnya yang membuat lawan menghormati dan kawan terkesima.
Ketegangan NU-Muhammadiyah soal Hari Raya Idul Fitri nyaris tidak terdengar.
Ketiga, model kepemimpinan Said Aqil Siradj. Prototype kepemimpinannya mirip Gus Dur yakni mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada masyarakat, terkhusus warga NU dan pesantren.
Hari Santri Nasional yang diakui pemerintah setiap tanggal 22 Oktober juga salah satu hasil pada masa kepemimpinannya. Namun di saat pemerintah pada jalurnya membela kepentingan rakyat, NU ada di garis terdepan dan bahkan selalu memberi dukungan konkret. Sebuah model kepemimpinan yang dibangun atas dasar tujuan kemaslahatan hajat hidup orang banyak.
Juga kepemimpinan pembangunan peradaban dan misi jelas memperjuangkan SDM warga NU dalam peningkatan dunia pendidikan baik dalam maupun luar negeri. Maka tidak heran, kampus NU menjamur di seluruh tanah air.
Sejatinya misi pembangunan SDM warga NU telah dimulai secara konsisten sebelum Kyai Said mendapat amanah Ketum
PBNU dengan membuat program pengiriman beasiswa kader NU ke luar negeri, terkhusus di Timur Tengah. Penulis ikut membersamainya bahkan beberapa kader telah dikirim ke Universitas Qom Iran dengan mengambil dasar teologi dan filsafat 'Irfani maupun Burhani yang amat bernas, meski mendapat kritik tajam sana sini oleh banyak kalangan para kyai daerah.
Beliau memandang manfaat besar dalam setiap kerja sama pengembangan ilmu dan peradaban di setiap bangsa, itu adalah hal penting dan sangat perlu. Pembangunan kampus UNU dan rumah sakit NU yang telah dirintis olehnya perlu diteruskan pengembangannya oleh siapapun Ketum NU ke depan.
Keempat, model kepemimpinan Yahya Cholil Staquf. Prototype kepemimpinan yang mengedepankan tertib administrasi ke-NU-an. Manajemen satu pintu melalui persuratan Digdaya NU menjadi menarik untuk terus dikembangkan.
Sehingga NU di semua struktur lebih tertata rapi secara administrasinya dan tidak seperti lapak pasar di mana masing-masing lembaga di bawah
PBNU bisa melakukan kerja sama langsung dengan pihak eksternal. Program satu pintu menjadikan manajemen keuangan terkontrol dan terkendali, serta termonitor dengan baik bagi kelembagaan NU.
Meski tampaknya seolah-olah tidak fleksibel, kaku, dan banyak lembaga di bawahnya tidak lincah lagi dengan dihindarinya masing-masing lembaga membuat proposal kegiatannya sendiri-sendiri, bendahara lembaga pun ditutup. Kepemimpinan penataan manajemen satu pintu kebijakan di bawah kendali langsung
PBNU adalah konsep besar yang harus bisa diimplementasikan ke depan lebih rasional, dinamis, dan elegan.
Dari model keempat kepemimpinan
PBNU di atas, rasanya bisa diambil madu positifnya oleh Ketum
PBNU ke depan sesuai jargon filosofis NU: Al-Muhafadhatu 'Alal Qadiimish-Sholih Wal Akhdzu Bil Jadiidil Ashlah; senantiasa melestarikan model kepemimpinan yang bagus sekaligus melakukan transformasi inovasi program NU yang dibutuhkan zaman secara dinamis, terkoneksi, terkomunikasi, terkoordinasi ke semua pihak terkait dan terkendali dengan baik sehingga terukur dampak manfaatnya kepada masyarakat luas.
Alfaqir, penulis mengusulkan kepada siapapun Ketum
PBNU terpilih nantinya agar terus melakukan kerja sama strategis kemitraan dengan pemerintah, civil society/masyarakat swasta, dan dunia internasional dalam rangka penetapan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak demi kemaslahatan berbangsa yang efektif, akuntabel, terpercaya, berdampak manfaat nyata sekaligus terukur, dan mengedepankan meritokrasi (merit system) dalam sistem kepemimpinan di tubuh NU.
Dengan demikian, setiap program pemerintah menjadi "Fardhu Kifayah bagi NU" hadir memberikan kontribusi positif kebijakan baik melalui jejaring eksekutif (termasuk kepala daerah), legislatif, yudikatif, dan lembaga/badan/komisi negara, termasuk pemilihan duta besar RI/diplomat untuk negara-negara sahabat.
Peran strategis
PBNU dengan memberikan dukungan dan dorongan kepada pemerintah termasuk teknisnya dengan mengikhbarkan kader-kader NU terbaik untuk ditetapkan pemerintah pada pos pengambilan kebijakan pemerintah dimanapun berada. Tidak hanya untuk pos penempatan komisaris BUMN semata, namun untuk semua sektor pengambilan kebijakan negara dan pemerintahan kapan dan dimanapun juga.
PBNU mengikhbarkan kepada pemerintah, dan pemerintah dapat mengambil dari nama-nama yang telah diikhbarkan
PBNU melalui proses meritokrasi internal untuk ditetapkan resmi oleh pemerintah.
Dengan menyandarkan rahmat dan ridha Allah, Tuhan Semesta Alam, semoga NU terus bermanfaat dalam ikut serta membangun peradaban kehidupan umat, bangsa, dan negara.
Al-Faatihah: ………………………
Jakarta, dini hari, 22 Mei 2026.
Salam Ta'dhim,
Alfaqir, Mohammad Dawam.